Para pelajar dari berbagai usia berkumpul dengan antusias, membawa buku tulis dan alat tulis sederhana. Mereka datang dari berbagai kampung di sekitar Gundagi, dengan satu tujuan yang sama: menimba ilmu demi masa depan yang lebih baik. Di tengah keterbatasan fasilitas, semangat belajar para peserta didik tidak pernah padam.

Tutor mereka, Bapak Yohn Wenda, S.Pd, memulai pembelajaran dengan senyum hangat. Dengan pengalamannya sebagai pendidik, ia mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh semua peserta. Ia menggunakan metode yang sederhana namun efektif, menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan para pelajar yang sebagian besar baru mengenal pendidikan formal.
Selama proses belajar, interaksi antara tutor dan pelajar berlangsung akrab. Setiap kali Bapak Yohn mengajukan pertanyaan, para pelajar berlomba-lomba mengangkat tangan untuk menjawab. Kadang terdengar tawa kecil ketika ada yang salah menjawab, namun suasana itu justru menambah kehangatan di kelas. Bagi mereka, belajar bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang kebersamaan dan saling mendukung.

Meskipun ruang kelas sederhana dan jauh dari fasilitas modern, semangat mereka tak pernah surut. Dinding papan dan meja kayu yang sudah tua menjadi saksi perjuangan mereka dalam menggapai ilmu. Di sela-sela waktu belajar, tutor Yohn sering memberikan motivasi agar para pelajar tidak menyerah dalam menempuh pendidikan, sebab menurutnya, pendidikan adalah kunci untuk mengubah kehidupan masyarakat Gundagi menjadi lebih baik.

Ketika pembelajaran berakhir, para pelajar meninggalkan kelas dengan wajah cerah dan penuh harapan. Mereka merasa bangga karena hari itu telah belajar hal baru bersama tutor yang sabar dan inspiratif. Bagi masyarakat Gundagi, kehadiran Yohn Wenda, S.Pd bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai sosok yang menyalakan cahaya pengetahuan di tengah keterbatasan. Semangat belajar mereka menjadi bukti bahwa pendidikan dapat tumbuh di mana saja, asalkan ada kemauan dan tekad yang kuat.